Skip to main content

Pengalaman Culture Shock

Sebelum kita membahas lebih lanjut bagaimana pengalaman culture shock saya ketika dihadapkan dengan budaya baru , ada baiknya kita memahami apa sih itu culture shock?

Culture shock atau gegar budaya merupakan situasi yang terjadi pada seseorang yang merasa tidak nyaman, bingung, cemas ketika dihadapkan dengan lingkungan dan cara hidup baru ketika mengunjungi tempat yang baru. Biasanya mereka yang mengalami culture shock dapat diidentifikasi dengan beberapa gejala seperti:
  • Menarik diri dari lingkungan baru
  • Sering mempertanyakan budaya atau tradisi setempat
  • Homesick (rindu dengan suasana rumah) 
  • Merasa bosan
Lantas bagaimana culture shock yang pernah saya alami? saya tinggal di pinggiran kota Padang tepatnya di kecamatan Koto Tangah, kelurahan Lubuk Buaya. Saat saya lulus SD dengan nilai yang memuaskan saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di salah satu SMP favorit di kala itu yakni SMP N 7 Padang yang terletak dekat dengan pusat kota Padang. 

Selama saya mengenyam pendidikan disana saya mengalami culture shock, hal ini disebabkan saya benar benar dihadapkan dengan lingkungan dan orang orang baru. Dibeberapa bulan pertama sekolah, saya benar benar merasa asing ditempat tersebut, bertemu dengan orang orang baru yang dimana mereka sudah saling kenal sejak SD sedangkan berasal dari SD yang berbeda yang berada belasan kilo dari SMP. Keakbran mereka membuat saya merasa canggung saat berkenalan dengan kelompok mereka, bahkan saya cenderung untuk menarik diri dan lebih suka berkenalan dengan orang orang yang bernasib sama seperti saya. 

Culture shock yang saya alami selama menempuhi pendidikan di SMP mempengaruhi nilai saya waktu itu, terutama nilai pelajaran olahraga sebab mata pelajaran olahraga memiliki waktu yang diluar jam pelajaran sekolah yang berakhir pada pukul 12.30 wib. Biasanya pelajaran olahraga dilakukan di Gor H. Agus Salim pada pukul 15.30 wib, sedangkan dari sekolah ke tempat tinggal saya  menempuh waktu 20 menit, belum lagi saya harus berebutan menunggu angkutan umum dengan siswa lain dan itu membuat saya merasa lelah saat pulang sekolah. Dikarenakan rasa lelah dan jarak tempuh Gor dari rumah saya yang terbilang jauh,saya memutus tidak mengikuti pelajaran olahraga dan menyembunyikan masalah ini dari orang tua saya. Hal hasil orang tua saya dipanggil ke sekolah karena sudah 5 pertemuan pelajaran olahraga yang saya lewatkan. Setelah kejadian itu orang tua saya mencarikan orang yang mengantarkan saya ke Gor setiap jam pelajaran olahraga, namun seiring berjalannya waktu saya mampu beradaptsi dengan lingkungan tersebut.


Selain mengalami culture shock di sekolah, saya juga pernah mengalamai culture shcok di kampung saya. ketika pertama kali puasa di kampung tepatnya di Sicincin, kabupaten Padang Pariaman. Di daerah tersebut hari pertama puasa ditentukan berdasarkan adat mereka yaitu mancaliak bulan (hilal), sedang keluarga saya hari pertama puasa sesuai dengan tanggal yang ditetapkan pemerintah. Jadi puasa pertama keluarga kami berbeda dengan masyarakat setempat.

Perbedaan lainnya yang paling saya rasakan ialah sholat tarawih, biasanya selama saya sholat tarawih di Padang dilaksanakan setelah ceramah ba'da isya. Namun berbeda hal dengan di kampung saya mereka memiliki jadwal sholat tarawih berbeda dengan yang biasa saya lakukan di Padang, sholat tarawih di surau kampung saya itu diadakan pada pukul 11 malam, disebabkan tidak adanya ceramah ba'da isya, jadi setelah sholat isya jamaah pulang terlebih dahulu ke rumah masing masing. Uniknya walaupun dilaksanakan 20 rakaat tetapi sholat tarawih berlangsung sangat cepat bahkan saya tak sempat untuk membaca apapun. hal tersebut menimbulkan pertanyaan dalam pikiran saya "apakah sholat tarawih saya sah kalo seperti ini sholatnya?" sehingga sholat tarawih berikutnya saya laksanakan di rumah.

Tibalah saat lebaran idul fitri, keluarga saya sholat ied di masjid salah satu pesantren yang berada tidak jauh dari kampung saya. Selesai sholat kami langsung pulang ke rumah dan tidak kemana mana karena masyarakat setempat masih menjalankan ibadah puasa, sehingga kami harus menunggu mereka lebaran barulah kemudian pergi silahturahmi ke rumah rumah kerabat disana.


Comments